Cerita Special

LagoiNews Special : Cerita Sejarah Tentang “SADAKO” Part 1

LagoiNews.com – Hari ini kami akan cerita balik ke sejarah Jepang tentang Sadako.

Negara Jepang merupakan salah satu negara yang unik dan mempunyai latar belakang sejarah yang berpijak pada hal mistik. Masyarakat Jepang juga percaya dan meyakini adanya kekuatan batin pada di dalam tubuh manusia yang dapat memasuki dimensi lain yang penuh dengan kekuatan luar biasa. Dunia supernatural Jepang cara yang benar untuk menjelaskan yang tidak dapat dijelaskan dan sebuah cara untuk masuk lebih dalam lagi. Persoalan seperti begini bisa dikatakan sebagai sebuah pencarian spiritual bagi para pencari hal mistik. Keajaiban ada di mana-mana dan kejadian ajaib yang supernatural mungkin pada sedang menunggu di sudut lainnya.

Dalam pikiran masyarakat Jepang, ketika orang yang telah meninggal dunia rohnya akan meninggalkan kehidupan ini menuju ke dunia dimensi lain, setelah mencapai tempat tujuan ini rohnya harus habiskan beberapa waktu itu di antara tingkat keberadaan dalam sebuah tempat yang tidak jelas dan tidak pasti. Tempat inilah roh menjadi hantu penasaran yang dapat hantui atau mengganggu orang yang masih memiliki hubungan yang sangat kuat dengannya. Para hantu tersebut terus menghantui orang-orang di dunia sampai ada seseorang atau sesuatu yang bisa membebaskan mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju keabadian.

Bagi orang Jepang, semua peristiwa alam yang hidup ataupun yang tidak hidup bahkan benda buatan dari manusia mempunyai potensi untuk menjadi hidup jika merasuki oleh roh gaib.

Dibawah ini adalah cerita Sejarah Jepang soal tentang “SADAKO” : Bagian 1

 

Sadako Sasaki lahir pada tanggal ( 7 Januari 1943 ) hidupnya yang singkat berakhir pada tanggal ( 25 Oktober 1955 ). Ketika Sadako masih berusia dua tahun, sebuah bom atom telah dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima, JepangSadako tinggal dekat Misasa Bridge di Hiroshima tempat bom atom dijatuhkan pada tanggal ( 6 Agustus 1945 ). Saat itu dia tak tahu bahwa dirinya telah menjadi korban radiasi pasca bom atom.

Sadako adalah seorang anak yang cerdas, ceria, sangat energik, mungkin istilah yang tepat adalah “pecicilan”, hingga orang tuanya selalu mengingatkan agar ia duduk manis barang sejenak. Sadako sangat suka berlari-larian. Ia sangat menikmati menjadi bagian dari team lari estafet di sekolahnya. Hingga dia tak memberitahu siapapun bahwa dia mulai merasakan pusing saat berlari. Satu saat, ia terjatuh di depan para guru, hingga dipanggillah orang tuanya datang ke sekolah. Tanggal ( 21 Februari 1955 ), Sadako pada saat itu mulai masuk rumah sakit. Sadako didiagnosa terjangkit leukemia sebagai dampak bom atom. Ibunya menyebut sebagai penyakit bom atom ataupun an atomic bomb disease.

Pada bulan November 1954, Tubuh Sadako tumbuh cacar pada leher dan bagian belakang telinganya. Pada bulan Januari 1955, Sadako mulai timbul titik berwarna ungu pada kakinya. Pada tanggal 21 Februari 1955Sadako harus dirawat di rumah sakit karena dokter mendiagnosa Sadako mengidap Leukemia dan divonis hanya dapat hidup paling lama satu tahun.

Pada tanggal 3 Agustus 1955, seorang sahabat akrab Sadako yang bernama Chizuko Hamamoto datang menjenguk Sadako di rumah sakit dengan membawa kertas emas untuk membuat bangau kertas, karena berdasarkan kisah klasik Jepang, jika seseorang membuat seribu bangau kertas, maka permintaannya akan dikabulkan. Cerita yang berkembang menyebutkan bahwa Sadako hanya mampu menyelesaikan 644 bangau kertas sebelum dia meninggal, dan sahabatnya meneruskan hingga 1.000 dan menguburkan semua bersama jasad Sadako. Cerita lain dari Hiroshima Peace Memorial Museum menyatakan bahwa pada akhir Agustus 1955Sadako teleah menyelesaikan 1.000 bangau kertas dan meneruskan untuk membuat lebih banyak lagi.

Sejak saat itu Sadako mulai membuat paper crane untuk meminta kesembuhan bagi dirinya. Untaian bangau kertas digantung di atas tempat tidurnya dengan seutas benang. Meskipun Sadako punya banyak waktu di rumah sakit untuk melipat bangau, ia kehabisan kertas. Dia pun menggunakan medicine wrappings dan apa saja yang bisa ia pungut. Ia berkunjung ke kamar pasien lain untuk meminta kertas bekas bungkus bingkisan pengunjung yang datang mengunjungi pasien. Chizuko juga membawakan kertas untuknya. Sadako keinginan melipat 1000 bangau, tetapi sayang, Sadako hanya sanggup melipat 644 sebelum ajal menjemputnya.

Kondisi Sadako memburuk secara drastis, membuat kedua orang tua dan saudara-saudaranya sedih melihatnya sekarat. Ibunya membuatkan sebuah kimono bercorak bunga sakura supaya dapat dipakainya sebelum ia meninggal. Saat itu Sadako merasa kondisinya membaik sehingga ia dibolehkan pulang selama beberapa hari. Sadako berteman dengan seorang anak laki-laki bernama Kenji, seorang anak yatim, yang juga menderita leukemia tetapi sudah dalam stadium lanjut. Kenji sudah terkena dampak radiasi sejak ia dalam kandungan ibunya.

Sadako mencoba memberi Kenji harapan dengan kisah bangau emas (The golden crane story), tetapi Kenji sadar akan kenyataan bahwa waktunya sudah dekat. Ibunya sudah lebih dulu meninggal, dan ia sudah belajar bagaimana cara membaca diagram darahnya (blood charts) dan sudah tahu bahwa ia sudah dalam kondisi sekarat. Saat di rumah Saat di rumah sakit, Sadako menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kematian Kenji, dan dia sangat terpukul. Sadako tahu bahwa gilirannya pun akan segera tiba.
[ Sambung Ke Bagian 2 ] [BP]

Share:

Leave a reply